Selalu Bayar ‘Iuran’, Aliran Air Warga Jl Singkuang Berau Tetap Diputus
By DailyAndro 18.16 Berau , New
TANJUNG REDEB – Seluruh rumah warga Jl Singkuang RT 12 Gang Salak 2 dan Gang Family terpaksa mengalami tindakan tidak menyenangkan. Yakni selalu rutin bayar tagihan air sejak tahun 2012, tiba-tiba dianggap menunggak pembayaran air selama 15 bulan dengan total tagihan yang cukup fantastis mencapai Rp44 juta.
Akibatnya, PDAM Tita Segah ‘terpaksa’ memutus aliran air terhitung sejak Senin (07/09/2015). Ironisnya kedua gang yang dihuni 12 rumah ini tepat berada di kiri dan kanan PDAM Singkuang.
“Pemutusan ini sungguh tidak mengenakkan dan diluar dugaan kami. Kami kecewa dan merasa tidak diperlakukan dengan adil. Apalagi PDAM melakukannya tanpa pemberitahuan sama sekali,” ujar seorang warga Gang Salak 2 yang enggan disebutkan namanya sembari diamini warga lainnya.
Selain itu, lanjutnya, sejak adanya sambungan air dilingkungan mereka pada tahun 2012 lalu, tidak sekali pun pernah menunggak pembayaran ‘iuran air’. Pembayaran ‘iuran air’ itu mereka lakukan melalui petugas penagihan PDAM Singkuang bernama Rudi dan Yadi.
“Kami menyebutnya ‘iuran air’ karena selama ini meski di rumah kami ada meteran PDAM, tapi pembayaran air tidak pernah dibayar melalui pemakaian yang terbaca di meteran air, tetapi melalui pemakaian di pipa induk PDAM Singkuang. Sejak tahun 2012, kami bayarnya dengan besaran yang sama tetapi memang kami tidak pernah menerima bukti pembayaran apa pun,” tuturnya sembari bersedih.
Sementara warga Gang Family yang juga enggan disebutkan namanya mengatakan, warga kedua gang beramai-ramai mendatangi PDAM Tirta Segah untuk menanyakan perihal pemutusan aliran air itu. Disana, warga ditemui petugas Hubungan Langganan (Hublang) bernama Maulana dan baru diketahui jika ada tunggakan pembayaran air secara berjamaah selama 15 bulan dengan total tagihan Rp44 juta.
“Tunggakan inilah yang kemudian menjadi dasar bagi PDAM Tirta Segah memutus aliran air kami. Bagi kami ini sungguh tidak masuk akal, coba saja pikirkan apa mungkin kami secara berjamaah kompak tidak bayar air. Kami ini sadar dengan kewajiban, apa lagi setiap hari kami sangat terbantu dengan terpenuhinya kebutuhan air bersih. Bahkan kalau petugas tagih tidak datang, kami sendiri yang mendatangi kantor PDAM Singkuang untuk membayar. Jadi tidak mungkin kan kalau kami tidak bayar,” jelasnya.
Dia menambahkan, selama aliran air diputus, warga terpaksa membeli air melalui tanki berjalan. Selain itu, warga sangat menyesalkan tindakan PDAM yang memutus aliran air tanpa adanya pemberitahuan itu.
“Kami ini berdomisili tepat di kiri dan kanan PDAM Singkuang. Selama ini kami rutin membayar. Jadi kami mohon agar PDAM mengalirkan kembali airnya, karena kami sama sekali tidak bersalah. Jika ada tunggakan pembayaran, itu adanya diinternal PDAM sendiri, yakni antara petugas penagihan PDAM Singkuang dengan PDAM Tirta Segah. Tidaklah pas jika kami diikutsertakan di masalah internal mereka. Selain itu, untuk menghindarinya terjadi hal seperti ini lagi, kami mohon agar PDAM dalam mencatat pembayaran sesuai meteran air yang ada di rumah kami yang kemudian biarkan kami sendiri yang membayarnya secara resmi ke loket pembayaran PDAM,” tutup mereka.
Hingga berita ini diturunkan, upaya kabarberitanews.com untuk mengkonfirmasi masalah ini ke Direktur PDAM Tirta Segah, Bahriansyah belum membuahkan hasil. (as) kabarberitanews.com
Akibatnya, PDAM Tita Segah ‘terpaksa’ memutus aliran air terhitung sejak Senin (07/09/2015). Ironisnya kedua gang yang dihuni 12 rumah ini tepat berada di kiri dan kanan PDAM Singkuang.
“Pemutusan ini sungguh tidak mengenakkan dan diluar dugaan kami. Kami kecewa dan merasa tidak diperlakukan dengan adil. Apalagi PDAM melakukannya tanpa pemberitahuan sama sekali,” ujar seorang warga Gang Salak 2 yang enggan disebutkan namanya sembari diamini warga lainnya.
Selain itu, lanjutnya, sejak adanya sambungan air dilingkungan mereka pada tahun 2012 lalu, tidak sekali pun pernah menunggak pembayaran ‘iuran air’. Pembayaran ‘iuran air’ itu mereka lakukan melalui petugas penagihan PDAM Singkuang bernama Rudi dan Yadi.
“Kami menyebutnya ‘iuran air’ karena selama ini meski di rumah kami ada meteran PDAM, tapi pembayaran air tidak pernah dibayar melalui pemakaian yang terbaca di meteran air, tetapi melalui pemakaian di pipa induk PDAM Singkuang. Sejak tahun 2012, kami bayarnya dengan besaran yang sama tetapi memang kami tidak pernah menerima bukti pembayaran apa pun,” tuturnya sembari bersedih.
Sementara warga Gang Family yang juga enggan disebutkan namanya mengatakan, warga kedua gang beramai-ramai mendatangi PDAM Tirta Segah untuk menanyakan perihal pemutusan aliran air itu. Disana, warga ditemui petugas Hubungan Langganan (Hublang) bernama Maulana dan baru diketahui jika ada tunggakan pembayaran air secara berjamaah selama 15 bulan dengan total tagihan Rp44 juta.
“Tunggakan inilah yang kemudian menjadi dasar bagi PDAM Tirta Segah memutus aliran air kami. Bagi kami ini sungguh tidak masuk akal, coba saja pikirkan apa mungkin kami secara berjamaah kompak tidak bayar air. Kami ini sadar dengan kewajiban, apa lagi setiap hari kami sangat terbantu dengan terpenuhinya kebutuhan air bersih. Bahkan kalau petugas tagih tidak datang, kami sendiri yang mendatangi kantor PDAM Singkuang untuk membayar. Jadi tidak mungkin kan kalau kami tidak bayar,” jelasnya.
Dia menambahkan, selama aliran air diputus, warga terpaksa membeli air melalui tanki berjalan. Selain itu, warga sangat menyesalkan tindakan PDAM yang memutus aliran air tanpa adanya pemberitahuan itu.
“Kami ini berdomisili tepat di kiri dan kanan PDAM Singkuang. Selama ini kami rutin membayar. Jadi kami mohon agar PDAM mengalirkan kembali airnya, karena kami sama sekali tidak bersalah. Jika ada tunggakan pembayaran, itu adanya diinternal PDAM sendiri, yakni antara petugas penagihan PDAM Singkuang dengan PDAM Tirta Segah. Tidaklah pas jika kami diikutsertakan di masalah internal mereka. Selain itu, untuk menghindarinya terjadi hal seperti ini lagi, kami mohon agar PDAM dalam mencatat pembayaran sesuai meteran air yang ada di rumah kami yang kemudian biarkan kami sendiri yang membayarnya secara resmi ke loket pembayaran PDAM,” tutup mereka.
Hingga berita ini diturunkan, upaya kabarberitanews.com untuk mengkonfirmasi masalah ini ke Direktur PDAM Tirta Segah, Bahriansyah belum membuahkan hasil. (as) kabarberitanews.com

